Rabu, 02 Februari 2011

Sebuah Tulisan Terakhir Buat Sahabatku Rinra Sujiwa Syahrul Putra


Innalillahiwainnailaihiraajiuun…
sumber : facebook
Itulah kalimat pertama yang terucap ketika mendengar kepastian kabar bahwa telah meninggal dunia salah seorang sahabat terbaik kami. Kabar tentang meninggalnya Nindya Praja Rinra Sujiwa Syahrul Putra diketahui ketika Bagian Pengasuhan IPDN mengumpulkan seluruh satuan nindya praja asal pendaftaran Provinsi Sulawesi Selatan di Posko Pusat Pelayanan Nusantara pada pagi tanggal 31 Januari 2011. IPDN kembali ditimpa masalah. Banyak spekulasi beredar di kalangan masyarakat. Sebagian besar kembali mengait-kaitkan dengan lembaran kelam IPDN masa lalu. Teriakan lantang menggugat lembaga pendidikan kedinasan ini pun kembali bergaung. Mereka tanpa perlu tahu dulu apa penyebab meninggalnya praja tersebut.
Media seakan berlomba memberitakan setiap kejadian tentang lembaga ini dan respon dari masyarakat pun tinggi. Wajar, kerena lembaga ini adalah milik bangsa Indonesia yang dibiayai 100 persen dari uang negara. Juga wajar jika rakyat Indonesia menginginkan agar lembaga ini tidak dengan sia-sia memakai dana negara yang begitu besar dalam mencetak kader pemimpin mereka. Kontrol dari masyarakat sebagai pemilik penuh lembaga ini memang sangat dibutuhkan sekali demi tercapainya tujuan lembaga ini didirikan. Tapi adalah suatu ketidakwajaran jika sebagian dari mereka (oknum) menuduhkan hal yang macam-macam terhadap suatu kejadian di lembaga ini. Kasus meninggalnya praja bukan lah hal yang pertama kali terjadi di IPDN. Kasus kematian praja sudah ada sejak pertama kali nya IPDN (dulu STPDN) berdiri. Ada yang meninggal memang karena kekerasan dan ada juga yang meninggal karena hal-hal yang wajar seperti karena sakit, bencana alam seperti Tsunami (di Aceh), ataupun kecelakaan.
Pada hari senin, tanggal 31 Januari kemarin pihak yang berwenang telah mengumumkan kepada publik tentang penyebab meninggalnya Rinra bahwa ia meninggal murni akibat penyakit yang dideritannya. Keterangan tersebut tidak hanya berasal dari keluarga Rinra, pihak keluarga pun telah menyampaikan bahwa memang benar Rinra memiliki riwayat penyakit tersebut.
rinra dan ayahanda tercinta,
Saya ingin mengklarifikasi kembali. Setiap tahunnya IPDN menerima sekitar 1000 orang praja. Karena di IPDN ada empat tingkat maka jumlah praja mencapai 4000 orang. Kemungkinan ada praja yang meninggal di antara jumlah total praja yang sangat banyak tersebut tentu ada. Tidak ada yang bisa menjamin dengan jumlah yang sebesar itu bahwa praja IPDN tidak ada yang meninggal selama pendidikan.  Yang menjadi masalah bukanlah kematiannya tapi apa penyebab kematian praja tersebut.
Garis tangan setiap manusia siapa yang tahu. Ajal menjemput tanpa perlu tahu siapa kita, anak siapa kita, ataupun sudah berapa umur kita. Terkadang kita tidak sadar bahwa ajal itu bisa  saja datang menjemput diri kita sendiri, saudara, teman, anak, ataupun orang tua kita sendiri. Kemarin hari Minggu tanggal 30 Januari 2011 salah seorang sahabat terbaik kami Nindya Praja Rinra Sujiwa Syahrul Putra telah mengembuskan nafas terakhirnya. Tidak ada yang menyangka praja utusan Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan ini akan pergi secepat itu. Pada hari Jum’at tanggal 28 Januari ia izin ke luar kampus. Ia pulang untuk menemui keluarganya di Makassar. Mungkin ini adalah kuasa tuhan yang menyempatkannya untuk bertemu dengan keluarga tercinta sebelum dipanggil oleh Yang Kuasa. Praja yang biasa dipanggil Daeng Rinra itu sehari-harinya masih terlihat sehat dan tidak ada menunjukkan suatu kejanggalan apapun. Tidak ada satu pun teman sewismanya (Wisma Nusantara 9 Bawah) yang mengetahui bahwa Rinra ada masalah dengan kesehatannya.
Semasa menjadi praja ia dikenal termasuk praja yang aktif dalam organisasi praja dan memegang jabatan yang strategis. Terakhir ia menjabat sebagai Koordinator Wapa Manggala ( Organisasi pecinta alam IPDN) dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Praja. Ia secara pribadi saya kenal sebagai sahabat yang senang menolong teman dan senang bercanda. Ia memang anak gurbernur Sulawesi Selatan tapi ia tak pernah berlindung di balik jabatan ayahnya tersebut. Setiap orang yang pertama kali mengenalnya akan sulit percaya bahwa ia adalah anak orang nomor satu di Sulawesi Selatan. Kesederhanaan, itulah kesan saya terhadap Rinra.
Itulah Rinra, takdir Tuhan tidak mengantarkan mu menjadi seorang purna praja yang dengan gagah memakai pin purna praja di dada kiri mu. Kau meninggalkan kampus ini dengan cepat. Kematian mu boleh menjadi bahan pembicaraan oleh orang di luar sana. Mereka boleh menuduh macam-macam lembaga ini lagi. Tapi, mereka tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita di sini sebenarnya. Bagaimana kita ditempa oleh para pengasuh, dosen, dan pelatih dengan keras. Bagaimana kita melewati hari-hari yang penuh perjuangan ini dengan tidak sia-sia. Andai Tuhan memberimu kemampuan untuk bicara, pasti akan kau ceritakan hal yang sebenarnya kepada mereka. Pasti kau akan dengan tegas dan tak kalah lantangnya memberikan penjelasan kepada mereka. Tapi Tuhan tak memberikan izin itu, kau dibiarkan tenang di alam sana. Tugas mu telah selesai sekarang kawan. Kau telah dipanggil-Nya. Hanya doa yang dapat kami panjatkan dari bumi Jatinangor ini.
Satu hal lagi yang harus kau ketahui Rin, keinginan mu untuk mengadakan papan panjat di IPDN akan terus kami perjuangkan sebagai hadiah dari kami anggota Wapa Manggala bagi mu. Ilham simabua 2 Februari 2011

Related Posts by Categories

3 komentar:

  1. meskipun sampai saat ini masih susah untuk percaya kalau ia tlah berjumpa Tuhan mendahulii kita, tapi Rinra akan hidup di hati kita selamanya..
    semangat untuk perjuangkan papan panjat yaa..
    semangat angkatan XIX ku.!!
    *uda teguhh : like this blog. materi kuliah kita masukin juga ya. buat bahan belajar juga. hihi,

    BalasHapus
  2. raga nya memang telah pergi, tapi jiwa nya masih terasa hingga saat ini..
    thks ya mbak.. hehe

    BalasHapus
  3. kalau gak salah hari ini alm kak "Rinra Sujiwa Syahrul Putra"
    ulang tahun yaa..

    BalasHapus