Blog Praja Holic

Tampilkan postingan dengan label seputar IPDN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seputar IPDN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

Sejarah Berdirinya Unit Kegiatan Praja Wapa Manggala

Lambang Wapa Manggala
Anggota Wapa Manggala Yama Fajar (Angkatan XI) @ Puncak Manglayang
Cikal bakal berdirinya Wapa Manggala sudah ada sejak angkatan pertama Praja STPDN, yaitu ketika beberapa praja penggemar kegiatan alam terbuka mencoba menyatukan hobinya dalam sebuah organisasi. Namun hal ini belumlah terealisasi secara nyata, sehingga kegiatan-kegiatan tersebut masih bersifat individu dan belum terorganisir. Baru pada angkatan kelima cita-cita tersebut mulai direalisasikan, yang berawal dari dibentuknya Lembaga Swadaya Praja (LSP) Gerakan Cinta Lingkungan (GCL) dengan diprakarsai oleh beberapa fungsionaris Wahana Bina Praja waktu itu didukung oleh ketua STPDN I.G.K Manila, yang yang dikenal sebagai salah satu pemerhati kegiatan alam terbuka di Indonesia (beliau adalah anggota kehormatan WANADRI). Bersama dengan itu, diluar STPDN, Pak Manila diangkat juga menjadi Pembina kehormatan Zabra yang ditandai dengan dibuatnya papan panjat pertama di STPDN yang terletak di depan rumah beliau (dekat Iapangan voli komplek dosen). Maka tidaklah salah apabila dikatakan Wapa dan Zabra adalah saudara kandung se-bapak tidak se-ibu.

Sejalan dengan berdirinya GCL, pada waktu itu Pak Manila menawarkan suatu kegiatan Sekolah SAR yang pertama bagi praja bekerja sama dengan WANADRI (akhir tahun 1996). Sekolah SAR tersebut diikuti oleh perwakilan praja dari Muda hingga Wasana, baik putra maupun putri, setelah melalui berbagai seleksi. Selepas sekolah SAR, para alumni terinspirasi dan mencoba merealisasikan cita-cita untuk mendirikan sebuah organisasi pecinta alam bagi praja, maka dibentuklah organisasi MANGGALA, walaupun belum dinyatakan resmi oleh lembaga karena sudah ada organisasi GCL. Disinilah sebenarnya awal berdirinya Wapa Manggala.

Tahun berikutnya (1997) Sekolah SAR angkatan kedua kembali dilaksanakan, dengan peserta lebih banyak, dan sebagian dari mereka merupakan fungsionaris WBP angkatan VI dan kader-kader fungsionaris Angkatan VII. Selepas Sekolah SAR tersebut, animo untuk mengembangkan MANGGALA semakin kuat. Dengan dimotori oleh alumni sekolah SAR tersebut, maka diambillah inisiatif untuk menggabungkan GCL dengan MANGGALA, kemudian muncullah WAPA MANGGALA, yang artinya kurang lebih adalah sebagai Wahana Praja Mengenal Masyarakat, Gunung, Alam dan Lingkungan.

Munculnya organisasi independent dibidang kegiatan pecinta alam ini mendapat tanggapan yang bagus dari pak Manila, maka sejak saaat itu berdirilah Lembaga Swadaya Praja Wapa Manggala dengan Pembina adalah Pak Manila dan Pak lndrarto (keduanya Pembina Zabra juga). Sayangnya tidak ada catatan resmi yang menyatakan hari jadi dan tanggal berdirinya Wapa Manggala.

Selanjutnya pada masa transisi dari angkatan VI dan VII praja STPDN, sebagai oraganisasi baru, Wapa Manggala mengadakan perekrutan anggota untuk angkatan pertama (1998). Perekrutan anggota ini tidak melalui kegiatan Pendidikan dasar atau proses MABIM sebagaimana seharusnya, yang penting waktu itu adalah menarik animo dan minat praja secara keseluruhan untuk bergabung dan menjadi anggota. Maka kemudian diadakan acara pelantikan angkatan pertama yang terdiri dari angkatan VII dan VIII praja STPDN, secara simbolis di kaki Gunung Manglayang dengan ditandai oleh syal biru tua berlambang delapan arah mata angin sebagai tanda keanggotaan. Jumlah anggota yang dilantik cukup banyak berkisar diatas 50 orang, belum ditambah simpatisan Wapa dan Praja yang Iainnya.

Salah satu komitmen mendasar Wapa Manggala, yang disosialisasikan pada waktu pelantikan angkatan pertama, adalah dinyatakan bahwa dalam Wapa Manggala anggota terbebas dari belenggu senioritas, namun tetap dengan prinsip saling menghargai dan menghormati antar sesama anggota serta dilandasi oleh semangat kebersamaan dan persaudaraan. Source : FB Wapa Manggala

Jumat, 06 Mei 2011

Penerimaan Calon Praja IPDN Tahun Ajaran 2011/2012

Pengukuhan Pamong Praja Muda oleh SBY
Berdasarkan surat Menteri Dalam Negeri Nomor 892.1/1245/SJ tanggal 06 April 2011 tentang Penerimaan Calon Praja IPDN Tahun Ajaran 2011/2012,diberitahukan bahwa Pemerintah Daerah se Indonesia pada tahun ajaran 2011/2012 membuka kesempatan bagi putera puteri Warga Negara Indonesia mengikuti pendidikan tinggi kepamongprajaan (Diploma IV) pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Adapun ketentuan penerimaan Calon Praja (Capra) IPDN Tahun Ajaran 2011/2012 sebagai berikut :

I. Syarat Dan Tata Cara Pendaftaran

A. Persyaratan Pelamar/Calon Peserta seleksi meliputi :

1) Warga Negara Indonesia;

2) Usia per tanggal 1 September 2011, minimal usia 17 tahun 8 bulan :

a. Pelamar umum maksimal 21 (dua puluh satu) tahun;

b. Pelamar dari PNS dan Tugas Belajar berumur maksimal 24 (duapuluhempat) tahun dan mempunyai masa kerja minimal 2 (dua) tahun.

3) Tinggi badan pelamar pria minimal 160 cm dan wanita minimal 155 cm;

4) Tahun Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas; (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) pendaftar, yaitu tahun 2009 dan 2010, bagi pelamar umum;

5) Tidak bertato atau bekas tato dan bagi pelamar Pria tidak ditindik atau bekas ditindik telinganya atau anggota badan lainnya, kecuali karena ketentuan agama/adat;

6) Nilai rata-rata Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) minimal 7,00;

7) Tidak menggunakan kaca mata/lensa kontak minus;

8) Bagi pendaftar yang masih duduk di kelas XII pada tahun 2011, dapat mendaftarkan diri dengan menyertakan surat keterangan yang ditandatangani dan disahkan Kepala Sekolah yang menyatakan bahwa yang bersangkutan masih duduk di kelas XII;

9) Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari kepolisian tingkat Kabupaten/Kota Setempat;

10) Surat Keterangan berbadan Sehat dari RSUD setempat;

11) Surat Pernyataan belum pernah menikah/kawin, hamil/melahirkan yang diketahui orang tua/wali dan disahkan Kepala Desa/Lurah setempat;

12) Surat pernyataan sanggup tidak menikah/kawin selama mengikuti pendidikan yang diketahui oleh orang tua/wali yang dinyatakan secara tertulis di atas kertas bermaterai Rp. 6.000,-

13) Surat Pernyataan bersedia mentaati Peraturan Kehidupan Praja yang dinyatakan secara tertulis di atas kertas bermaterai Rp. 6.000,-;

14) Surat Pernyataan bersedia mengembalikan seluruh biaya pendidikan yang telah dikeluarkan pemerintah dikarenakan mengundurkan diri, diberhentikan dan/atau melanggar peraturan pendidikan yang dinyatakan secara tertulis di atas kertas bermaterai Rp. 6.000,- dandiketahui oleh orang tua/wali; dan

15) Surat Pernyataan bersedia mengikuti proses pendidikan di kampus IPDN Pusat atau Daerah yang dinyatakan secara tertulis di atas kertas bermaterai Rp. 6.000,-

B. Persyaratan Lainnya

1) Foto copy Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang;

2) Pas photo berwarna menghadap ke depan dan tidak memakai kacamata, ukuran 3×4 cm, sebanyak 5 (lima) lembar;

3) Menyerahkan surat pernyataan yang telah ditentukan; dan

4) Syarat pendaftaran disusun rapih dan dimasukkan ke dalam stopmap berwarna biru.

C. Tempat dan Waktu Pendaftaran

1) Tempat pendaftaran :

Pendafaran dilakukan oleh setiap calon peserta seleksi di Badan Kepegawaian Daerah / Bag Kepegawaian Setda masing-masing

2) Waktu pendataran :

Pandaftaran dilaksanakan setiap hari kerja mulai tanggal 02 Mei 2011 sampai dengan tanggal 15 Mei 2011, Pukul 09.00 WIB s.d 15.30 WIB.

D. Materi Tes Akademik :

1) Pancasila;

2) UUD 1945;

3) Pengetahuan Umum (Sejarah, KebijakanPemerintah, Otonomi Daerah, Hukum, Pengetahuan Dalam dan Luar Negeri);

4) Bahasa Indonesia;

5) Bahasa Inggris;

6) Matematika.

Ralat dikit : Untuk batas usia minimum dihilangkan, berdasarkan radiogram Mendagri Nomor : 892.1/1498/SJ tanggal 26-04-2011, tentang Pemberitahuan Ralat Persyaratan Usia.
Any questions??

Sabtu, 29 Januari 2011

Pentingnya Social Capital dalam Kehidupan Seorang Praja


PL 1 di Bojong Haleuang
Jika ingin memiliki saudara yang tersebar di 33 provinsi, dan di     kabupaten/kota di Indonesia maka jadilah praja. Memang demikian adanya, karena setiap tahunnya IPDN rata-rata menerima 1000 orang putra-putri terbaik bangsa untuk dididik di Lembah Manglayang IPDN. Itu berarti praja IPDN mempunyai potensi yang besar untuk bisa mengenal dan berteman dengan seluruh praja yang mempunyai beraneka ragam suku, budaya, agama, dan bahasa daerah.
Salah satu kultur/ tradisi yang hingga kini masih dilestarikan dan patut untuk dikembangkan yaitu adanya suatu kewajiban untuk menghapal dan mengetahui/mengenali praja lain, baik itu senior dan teman satu kontingen (satu provinsi), satu barak (wisma), ataupun satu kelas. Setiap praja wajib tahu nama beserta asal pendaftarannya masing-masing. Akan ada tindakan dari pengasuh yang akan diterima jika ada praja ada yang tidak hapal nama-nama mereka. Selain tindakan hukuman yang diberikan, praja yang bersangkutan akan dicap sebagai praja yang apatis.
Banyak makna filosofis yang terkandung dalam tradisi wajib kenal ini. Diantaranya agar tercipta hubungan yang baik dan harmonis antar sesama praja sehingga peluang terjadinya clash/ konflik antar praja dapat diminimalisir. Di IPDN setiap praja adalah bersaudara karena mereka yang berasal dari Sabang sampai Merauke merupakan anak negara. Setiap praja mendapatkan perlakuan dan fasilitas yang sama, seragam yang sama hingga ukuran rambut yang sama. Hal ini dimaksudkan agar tercipta semangat korsa dan persatuan.
Praja IPDN dituntut untuk dapat menjadi miniaturnya rakyat Indonesia yang ideal. Setiap praja juga harus mampu menjadi perekat bagi keutuhan NKRI karena telah dididik dengan jiwa nasionalisme yang tinggi. Rasa kebersamaan dan persaudaraan tersebutlah yang merupakan bagian dari social capital (modal sosial).
Dalam kaitannya dengan kehidupan praja di IPDN, Social capital terdiri dari 3 (tiga) unsur yang membangunnya, yaitu trust (kepercayaan), norm (norma), dan network (jaringan).

1.      Trust (Kepercayaan)
Kepercayaan merupakan modal yang sangat penting dan pokok bagi kehidupan sehari-hari praja di kampus. Kondisi kehidupan praja dengan pola asrama akan menimbulkan potensi konflik yang besar. Sikap saling curiga-mencurigai akan muncul jika antara satu praja dengan praja lainnya tidak saling percaya. Akibatnya timbul ketidaknyamanan hidup di wisma/asrama. Di sinilah letak pentingnya terjalinnya kepercayaan antar praja. Dengan adanya kepercayaan maka tidak akan ada lagi rasa buruk sangka dengan praja lain. Tidak akan ada lagi yang merasa terancam keamanan barang-barangnya karena takut diambil oleh praja lainnya.

2. Norm (Norma)
Norma merupakan modal sosial yang juga mendukung terciptanya keadaan yang kondusif sebagai sarana untuk membedakan hal mana yang dianggap baik/wajar dan hal mana yang dianggap menyimpang. Salah satu norma yang penting sekali dalam menjaga hubungan baik antar praja adalah norma kesusilaan. Norma kesusilaan yang mengajarkan praja untuk bertindak sesuai dengan nurani sehingga dalam bertindak setiap praja harus mempertimbangkan baik buruknya akibat yang ditimbulkan sekiranya perbuatan itu dikerjakan.

3. Network (Jaringan)
Telah disampaikan sebelumnya bahwa salah satu kelebihan menjadi praja adalah mempunyai saudara dari setiap daerah di Indonesia. Hal itu merupakan suatu modal besar yang dimiliki praja dalam memperluas sekaligus memperkuat jaringan. Pentingnya unsur yang ketiga ini dapat kita pahami dalam contoh kehidupan sehari-hari praja. Contohnya dengan luasnya jaringan jika seorang praja membutuhkan buku tertentu untuk mengerjakan tugas maka ia dapat meminjam kepada praja lain yang punya buku tersebut, begitu juga jika teman lain tersebut membutuhkan buku yang lain maka ia juga akan meminjam buku kepada praja lain yang mempunyai buku tersebut. Contoh lain dapat kita lihat ketika masa cuti/liburan tiba. Seorang praja yang mempunyai hubungan dan jaringan baik dengan praja lain maka ia tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak jika ingin pergi liburan ke suatu daerah. Ia cukup menghubungi teman yang berasal dari daerah tersebut maka segala bentuk bantuan mulai dari tempat tinggal, transportasi, ataupun beban akomodasi lain akan berkurang. Begitu pun ketika bertugas nanti. Jika seorang purna praja ditugaskan ke suatu daerah maka hal yang harus terlebih dahulu dilakukannya adalah menghubungi temannya yang berasal dari daerah tersebut sehingga kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi akan dapat terbantu dengan adanya teman di sana.
Itulah mengapa pentingnya suatu Social Capital bagi kehidupan seorang praja. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai kesuksesan tidak hanya dibutuhkan modal kepintaran ataupun modal uang. Tapi ada modal lain yang tak kalah pentingnya yaitu modal sosial (Social Capital) yang di dalamnya terdapat trust (kepercayaan), norm (norma), dan network (jaringan). Dari berbagai contoh di atas dapat kita ambil suatu teori bahwa semakin tinggi Social Capital yang dimiliki oleh seorang praja maka akan semakin rendah Transactional Cost yang dibutuhkan untuk melakukan suatu tindakan/kegiatan tertentu. *ilham simabua

Kamis, 25 November 2010

MAKNA FILOSOFIS DARI PAKAIAN DINAS HARIAN (PDH) PRAJA IPDN


1.      Muts
-          Warna dasar Muts adalah biru melambangkan bahwa seorang Praja itu berfikiran seluas langit.
-          Pada Muts terdapat lis berwarna kuning melambangkan bahwa seorang Praja itu adalah seorang calon perwira. Ketika lulus nanti ia akan langsung diangkat menjadi PNS golongan III/a.

2.      Kewiraan
Kewiraan letaknya di sisi kiri atas Muts, Kewiraan juga melambangkan bahwa seorang praja adalah calon perwiranya PNS.

3.      Dek
-          Dek terletak di pundak seorang Praja, ini memiliki makna bahwa seorang Praja memiliki beban dan tanggung-jawab yang besar di pundaknya.
-          Setiap tingkatan praja memiliki jumlah bintang yang berbeda di dek nya. Hal ini menandakan semakin tinggi tingkat dan pangkat seorang Praja maka akan semakin besar pula tanggung-jawab yang dipikulnya.
Untuk tingkat 1 (Muda Praja) memiliki balok satu.
Untuk tingkat II (Madya Praja) memiliki balok satu dan bintang Satu.
Untuk tingkat III (Nindya Praja) memiliki balok satu dan bintang dua.
Untuk tingkat IV (Wasana Praja) memiliki balok satu dan bintang tiga.

4.      Monogram IPDN
Monogram IPDN terletak di atas kerah baju PDH. Monogram ini menandakan identitas dari IPDN.

5.      Papan Nama
Papan nama disematkan di atas saku kanan baju PDH. Warna latar papan nama adalah hitam dan tulisan nama berwarna putih. Hal ini menandakan bahwa nama seorang Praja harus bersih di atas hukum.

6.      Lambang Korpri
Lambang Korpri disematkan di atas saku kiri baju PDH. Lmbang Korpri menandakan bahwa seorang Praja selama pendidikan telah diangkat sebagai CPNS golongan II/a.
Lambang Korpri dan Papan Nama tidak disematkan sejajar melainkan Lambang Korpri disematkan lebih tinggi sedikit dari Papan Nama. Hal ini mengandung filosofi bahwa seorang praja harus lebih mementingkan masyarakat dibandingkan kepentingan pribadinya.

7.      Bordiran Lambang IPDN
Bordiran Lambang IPDN terletak di lengan kiri baju PDH. Hal ini menandakan identitas lembaga IPDN.

8.      Baju dan Celana
Baju dan celana PDH memiliki warna coklat sama seperti warna tanah. Hal ini menandakan seorang Praja harus memiliki sifat merakyat.

9.      Tali Ikat Pinggang dan Gesper
Tali ikat pinggang Praja berwarna hitam menandakan seorang Praja terikat oleh hukum. Di atas gesper juga terdapat lambang IPDN yang juga menandakan identitas lembaga IPDN.

10.  Sepatu
Sepatu PDH praja berwarna hitam memiliki makna filosofi bahwa seorang Praja berdiri di atas hukum.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Tips dan Trik untuk Lulus Menjadi Praja IPDN ( Berdasarkan Pengalaman Pribadi)

Jika mendengar ada yang mengucapkan tentang IPDN secara spontan yang terlintas di fikiran kita (kebanyakan) pasti tidak jauh dari keadaan kampus yang tidak kondusif, mengerikan, penuh kekerasan, intimidasi dari senior terhadap junior, masuknya pake uang pelicin, para prajanya kebanyakan anak-anak pejabat, ataupun masa depan sudah dijamin sebagai PNS, ataupun sebuah tempat penempaan kader pemimpin pemerintahan dalam negeri. Semua pandangan tersebut sah-sah saja terlintas di setiap pikiran kita yang memang fitrahnya diciptakan berbeda-beda oleh Yang Maha Kuasa. Sah-sah saja jika ada yang memandang IPDN sebelah mata ataupun bangga dengan eksistensi IPDN. (Kayaknya tulisan saya sudah mulai tak tentu arah nih).
Oke, berbicara mengenai jumlah peminat sebagai capra (calon praja) dari tahun-ketahun dapat kita ambil rata-rata peminatnya setiap tahunnya sangat tinggi yakni sekitar 15.000 sampai 20.000 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah praja yang diterima setiap tahun nya yakni berkisar antara 1.000 sampai 1.500 praja  (tergantung kebutuhan Pemda) tentunya persaingannya sangat ketat. Sebagai contoh kita ambil salah satu propinsi yang tergolong banyak peminatnya yaitu Sumatera Barat (asal pendaftaran penulis,hehe..). ketika penulis mendaftar sebagai calon praja pada tahun 2008 peminatnya mencapai 2000 orang sedangkan yang diterima sebanyak 49 orang.
Tulisan ini secara khusus saya tujukan kepada adik-adik calon praja ataupun kepada para orang tua yang ingin mengkaderkan anaknya menjadi seorang birokrat. Hal yang terpenting yang perlu kita yakini yaitu kesempatan itu ada dan kita semua yang memenuhi syarat mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat menjadi bagian dari IPDN seberapa ketat pun persaingan yang ada.
Ada beberapa Tips dan Trik yang mungkin dapat menjadi suatu masukan agar persiapan para calon praja menjadi terarah, antara lain:
1.    Luruskan niat untuk menjadi Praja IPDN, bukan semata-mata untuk mengejar status PNS tapi juga sebagai Abdi Praja (Pelayan Masyarakat).
2.    Aktif mencari tahu kapan jadwal tes IPDN dimulai. Hal ini karena tidak semua Pemda mengumumkan secara terbuka jadwal penerimaan calon praja. Informasi dapat di dapat di kantor BKD (Badan Kepegawaian Daerah) setempat.
3.    Lengkapi semua persyaratan yang telah ditetapkan. Kalau perlu teliti kembali semua berkas-berkas yang telah disusun. Untuk persyaratan yang diperlukan lebih lengkapnya lihat link berikut ini http://blogprajapunya.blogspot.com/2011/05/penerimaan-calon-praja-ipdn-tahun.html
4.    Terus ikuti perkembangan tes nya. Karena tes nya terdiri dari lima tahapan tes di daerah(administrasi, psikotes, kesamaptaan, kesehatan, dan kemampuan akademik) dan satu tahap terakhir yang dilaksanakan di Jatinangor (Pantukhir). Jangan sampai ada tes yang terlewat karena tes nya memakai sitem gugur. Intinya sering-sering mencari informasi ke BKD.

5.    Tips untuk mengikuti keenam tahapan tes :
a)    Tes Administrasi.
Lengkapi secepatnya semua persyaratan yang diminta. Makin awal melengkapi makin baik. Hal ini untuk menghindari ramainya peminat lain yang mengurus hal yang sama di kantor yang sama. Selain itu hal ini untuk mengantisipasi jika ada berkas yang salah kita masih mempunyai waktu untuk memperbaikinya.

b)    Tes Psikologi (Psikotes)
Tes Psikologi ini biasanya dilaksanakan di ibukota Provinsi. Saran penulis jauh-jauh hari sebelum hari H calon praja membiasakan untuk membahas soal-soal psikotes yang banyak dijual di toko buku. Guna nya bukan supaya IQ kita langsung naik drastis tapi agar kita familiar dengan soal-soal psikotes tersebut sehingga kita memiliki tingkat kepercayaan diri ketika mengerjakannya.
Bagi capra yang rumahnya jauh dari ibukota provinsi hal penting yang perlu dipersiapkan yaitu keberadaan kita di lokasi tes sebaiknya beberapa hari sebelum tes dilaksanakan agar kondisi badan tetap fit ketika tes berlangsung.
Ketika tes berlangsung pastikan anda mematuhi waktu mengerjakannya. Patuhi juga aturannya. Jangan mencontek (masak calon kader gak jujur?)

c)    Tes Kesamaptaan
Tes Kesamaptaan yaitu tes ketahanan dan kekuatan fisik. Tes kesamaptaan terdiri dari dua jenis, yaitu kesamaptaan A dan kesamaptaan B. Tes Kesamaptaan A yaitu Lari keliling Lapangan Bola selama 12 menit. Untuk capra putra usahakan minimal terlewati 6 putaran dan untuk putri usahakan minimal 5 putaran. Tes kesamaptaan B terdiri dari Push Up (Usahakan Minimal 30 kali), Sit Up (usahakan Minimal 30), Pull up (minimal 4 kali), dan shuttle Run/ lari membentuk angka delapan sebanyak tiga putaran (minimal 19 detik). Sebelum tes Samapta berlangsung hendaknya jauh-jauh hari latihan fisik yang teratur kalau perlu didampingi instruktur (malahan ada yang membuka les privat lho). Tapi jika kondisi keuangan tidak memungkinkan tidak perlu dipaksakan untuk memakai instruktur. Cukup mengerti teknik yang benar saja, selanjutnya berlatihlah secara mandiri.
 Ketika hari H sudah semakin dekat hentikan latihan-latihan berat, cukup latihan ringan seperti lari-lari kecil saja dan perbanyak konsumsi multivitamin dan buah-buahan.
d)    Tes Kesehatan
Tes Kesehatan biasannya dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah. Bagian-bagian yang di cek adalah mata ( maksimal Plus Minus 1,0), gigi ( tidak boleh memakai kawat, kalau ada gigi yang berlubang ditambal ataupun jika sudah terlalu parah sebaiknya dicabut). Tinggi badan untuk pria min. 160 cm, untuk wanita 155 cm. selanjutnya pemeriksaan darah, kelamin, THT, jantung, paru-paru, dan organ-organ dalam lainnya.
e)    Tes Akademik
Tes Akademik merupakan tes terakhir yang dilaksanakan di daerah. Tes Akademik dilaksanakan di ibukota provinsi. Materi yang diujikan yaitu Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kewarganegaraan. Tes berbentuk pilihan ganda. Tidak ada sistim minus. Jadi usahakan lembar jawaban terisi semua. Setelah anda lulus dalam tes ini maka kesempatan anda diterima sebagai praja IPDN sudah semakin besar.
f)     Pantukhir ( Penentuan Akhir)
Pantukhir yaitu tes terakhir yang dilakukan di kampus IPDN pusat di Jatinangor, Jawa Barat. Tes yang diberikan yaitu Kesamaptaan, kesehatan, dan tes wawancara. Untuk kesamaptaan dan kesehatan tolak ukur nya sama dengan yang dilaksanakan di daerah. Khusus untuk tes wawancara ada beberapa tips yang sekiranya perlu diperhatikan antara lain bersikap tegas dan tegap ketika ditanya. ketika di suruh menjawab pertannyaan jawablah langsung pada intinya (Praja biasa menyebutnya dengan istilah Jangan Banyak Penjabaran). Tidak ada standar pertannyaan apa saja yang ditanyakan. Tapi berdasarkan pengalaman yang ditanyakan seperti nama-nama menteri, pancasila, menyanyikan lagu wajib, memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, atau apa saja yang terlintas dipikiran penanya. Kalau saya dulu yang ditanyakan yaitu berat dan tinggi badan serta NEM. Tapi jangan salah banyak juga calon praja yang gugupnya luar biasa sehingga ditanya nama orang tua saja lupa. Maklum saja yang tim penanya terdiri dari Sekjen, dirjen, irjen, dan orang-orang yang berada di tataran top level Kementerian Dalam Negeri. Saran saya sebelum wawancara bangun dulu mental dan kepercayaan diri seperti berlatih berbicara di depan cermin dan sebagainya.

6.    Setelah semua tes dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tunggulah hasil tes nya dengan sabar. Berdoalah kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan hasil terbaik.
Bagi yang lulus selamat menjadi Praja IPDN akan tetapi bagi yang BELUM lulus semoga bersabar karena tahun depan gerbang Kesatrian IPDN masih terbuka lebar.
Note * ada cara cepat untuk lulus yaitu melalui “pintu samping” dan “pintu Belakang” jika anda atau orang tua anda bisa mengurusnya. Silakan saja dengan cara itu. Tapi cara itu hanya untuk orang-orang yang tidak takut dengan tuhan dan mau merebut hak satu calon praja lain yang seharusnya lulus. Ingat perbuatan itu hanya akan menzalimi diri sendiri dan orang lain. (Nindya Praja Teguh Ilham Simabua, 23 Oktober 2010)