| Status: Kedinasan (Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI) | |
| Alamat :
Pusdiklat Departemen Kehakiman dan HAM RI, Jl. Raya Gandul, Cinere,
Jakarta Selatan 16512. Telepon : (021) 7545096. Faks.: (021) 7545096. Direktur: Rusdianto, Bc.IP, S.H. Masa jabatan: Juni 2001 – sekarang. | |
Label
Berita dari Kampus
(6)
Catatan Seorang Praja
(12)
MOP PRAJA PAPUA
(32)
PTK LAIN DI INDONESIA
(17)
Pemerintahan
(1)
seputar IPDN
(5)
Sabtu, 15 Januari 2011
AKADEMI ILMU PEMASYARAKATAN JAKARTA
Sabtu, 08 Januari 2011
BEKAM, TEKNIK PENGOBATAN ALA NABI YANG DIAKUI DUNIA MEDIS MODERN
Bekam atau hijamah adalah teknik
pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya)
dari dalam tubuh melalui permukaan kulit.Perkataan Al Hijamah berasal
dari istilah bahasa arab : Hijama yang
berarti pelepasan darah kotor. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut
dengan cupping, dan dalam bahasa melayu dikenal dengan istilah Bekam.
Di Indonesia dikenal pula dengan istilah kop atau cantuk (sumber: wikipedia).
Dengan melakukan penghisapan/vakum maka
terbentuklah tekanan negatif di dalam cawan/kop sehingga terjadi drainase
cairan tubuh berlebih (darah kotor) dan toksin, menghilangkan
perlengketan/adhesi jaringan ikat dan akan mengalirkan darah “bersih” ke
permukaan kulit dan jaringan otot yang mengalami stagnasi serta merangsang
sistem syaraf perifer.
Cara bekam
Cara
melakukan Bekam :
1.
Mempersiapkan semua peralatan yang sudah disterilkan dengan alat sterilisator
standar.
2.
Mulai dengan do’a dan mensterilkan bagian tubuh yang akan dibekam dengan
desinfektan (misalnya. Iodin)
3.
Dilanjutkan dengan penghisapan kulit menggunakan “kop/gelas” bekam, kekuatan
penghisapan pada setiap pasien berbeda-beda. Lama penghisapan selama 5 menit,
tindakan ini sekaligus berfungsi sebagai Anestesi (pembiusan) lokal. Diutamakan
mendahulukan bagian tubuh sebelah kanan dan jangan melakukan penghisapan lebih
dari 4 titik bekam sekaligus.
4.
Dengan menggunakan pisau bedah standar kemudian dilakukan syartoh
/penyayatan (jumlah sayatan 5-15 untuk satu titik tergantung diameter kop
yang dipakai, panjang sayatan 0,3-0,5 cm, tipis dan tidak boleh terlalu dalam,
dilakukan sejajar dengan garis tubuh). Salahsatu tanda bahwa sayatannya baik
adalah sesaat setelah disayat, kulit tidak mengeluarkan darah akan tetapi setelah
disedot dengan alat maka darahnya baru keluar.
5.
Lakukan penghisapan kembali dan biarkan “darah kotor” mengalir di dalam kop
selama 5 menit.
6.
Bersihkan dan buang darah yang tertampung dalam kop dan jika perlu bisa lakukan
penghisapan ulang seperti tadi. Tidak boleh dilakukan pengulangan sayatan.
7.
Bersihkan bekas luka dan oleskan minyak habbatus sauda yang steril. Umumnya
bekas bekam akan hilang setelah 2-5 hari.
8.
Ucapkan Alhamdulillah dan rasakan keajaiban “mukjizat” medis bekam.
9.
Setiap pasien dianjurkan untuk memiliki alat bekam sendiri. Kop/alat bekam
tidak boleh digunakan untuk pasien lain pada penderita hepatitis, ODHA, dan
penyakit menular lainnya.
Ada
sekitar 12 titik utama yang disebutkan dalam hadits, selebihnya merupakan
pengembangan dari itu. Beberapa ahli bekam juga menggunakan titik akupuntur
untuk dilakukan pembekaman sedangkan yang lainnya menggunakan pendekatan
anatomi organ tubuh dan patofisiologis suatu penyakit.
Bagian tubuh yang dibekam diantaranya adalah
Titik di kepala (Ummu Mughits, Qomahduwah, Yafukh, Hammah, dzuqn, udzun), Leher
dan punggung (Kaahil, al-akhda’ain, alkatifain, naqroh,munkib), kaki (Wirk,
Fakhd, Zhohrul qodam, iltiwa’) dan lain sebagainya.
Waktu berbekam
Sebaiknya
berbekam dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor berhimpun dan
lebih terangsang (darah sedang pada puncak gejolak). Anas bin Malik
radhiallaahu 'anhu menceritakan bahwa : "Rasulullah SAW biasa
melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Ia
melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau keduapuluhsatu."
(Diriwayatkan oleh Ahmad).
Pemilihan
waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan
penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus
dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan. Dalam hal ini Imam Ahmad melakukan
bekam pada hari apa saja ketika diperlukan.
Imam
asy-Syuyuthi menukil pendapat Ibnu Umar, bahwa berbekam dalam keadaan perut
kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka
disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam
sebelumnya. 1. Dari Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa berbekam pada hari ke-17, 19 dan 21 (tahun Hijriyah), maka ia akan
sembuh dari segala macam penyakit.” (Shahih Sunan Abu Dawud, II/732, karya Imam
al-Albani) 2. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu 'anhu, Rasulullah SAW
bersabda: “ Sesungguhnya sebaik-baik bekam yang kalian lakukan adalah hari
ke-17, ke-19, dan pada hari ke-21.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani
(II/204)) 3. Dari Anas bin Malik radhiallaahu 'anhu, dia bercerita: ”
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam biasa berbekam di bagian urat merih
(jugular vein) dan punggung. Ia biasa berbekam pada hari ke-17, ke-19, dan
ke-21.” (HR, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, sanad shahih) 4. Dari Ibnu
Abbas RA, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
‘Berbekamlah pada hari ke-17 dan ke-21, sehingga darah tidak akan mengalami
hipertensi yang dapat membunuh kalian’.” (Kitab Kasyful Astaar ‘an Zawaa-idil
Bazar, karya al-Haitsami (III/388))
Ibnu Sina di dalam kitabnya Al-Qaanun mengatakan :
“Diperintahkan untuk tidak berbekam di awal bulan karena cairan-cairan tubuh
kurang aktif bergerak dan tidak normal, dan tidak diakhir bulan karena bisa
jadi cairan-cairan tubuh mengalami pengurangan. Oleh karena itu diperintahkan
melakukan bekam pada pertengahan bulan ketika cairan-cairan tubuh bergolak
keras dan mencapai puncak penambahannya karena bertambahnya cahaya di bulan”.
Bekam Menurut Pandangan Dunia
Kedokteran
Kadang orang menganggap bekam dengan sebelah
mata, karena dianggap sudah kuno atau hanya sekedar alternatif. Padahal dunia
kedokteran saat ini mulai membuktikan khasiat bekam.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa bekam bekerja dengan cara merangsang atau mengaktifkan :
(1) Sistem kekebalan tubuh
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa bekam bekerja dengan cara merangsang atau mengaktifkan :
(1) Sistem kekebalan tubuh
(2) Pengeluaran enkefalin (neurotransmitter
yang berperan dalam pengaturan rasa sakit, mood, tingkah laku, dan pengaturan
hormon).
(3) Pelepasan neurotransmitter (utk
memperlancar sistem syaraf)
(4) Penyempitan dan pelebaran pembuluh darah
serta
(5) “The gates for pain” pada Sistem Syaraf
Pusat yang berfungsi mengartikan sensasi rasa nyeri.
Adapun mekanismenya, menurut Dr. Wadda’ A. Umar, adalah sebagai berikut: apabila dilakukan pembekaman pada titik bekam, maka akan terjadi kerusakan pada kulit, jaringan bawah kulit (sub kutis), fascia dan ototnya. Akibat kerusakan ini akan dilepaskan beberapa mediator seperti serotonin, histamine, dan bradikinin, serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat ini menyebabkan terjadinya dilatasi kapiler dan arteriol pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari tempat pembekaman. Ini menyebabkan terjadinya perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah. Akibatnya timbul efek relaksasi (pelemasan) otot-otot yang kaku serta akibat vasodilatasi umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Yang terpenting adalah dilepaskannya corticotrophin releasing factor (CRF), serta releasing factor lainnya. CRF selanjutnya akan menyebabkan terbentuknya ACTH, corticotrophin serta corticosteroid yang mempunyai efek meredakan peradangan serta menstabilkan permeabilitas sel.
Adapun mekanismenya, menurut Dr. Wadda’ A. Umar, adalah sebagai berikut: apabila dilakukan pembekaman pada titik bekam, maka akan terjadi kerusakan pada kulit, jaringan bawah kulit (sub kutis), fascia dan ototnya. Akibat kerusakan ini akan dilepaskan beberapa mediator seperti serotonin, histamine, dan bradikinin, serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat ini menyebabkan terjadinya dilatasi kapiler dan arteriol pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari tempat pembekaman. Ini menyebabkan terjadinya perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah. Akibatnya timbul efek relaksasi (pelemasan) otot-otot yang kaku serta akibat vasodilatasi umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Yang terpenting adalah dilepaskannya corticotrophin releasing factor (CRF), serta releasing factor lainnya. CRF selanjutnya akan menyebabkan terbentuknya ACTH, corticotrophin serta corticosteroid yang mempunyai efek meredakan peradangan serta menstabilkan permeabilitas sel.
Penelitian lain menunjukkan bahwa bekam pada
titik tertentu dapat menstimulasi kuat syaraf permukaan kulit yang akan
dilanjutkan pada cornu posterior medulla spinalis melalui syaraf A-delta dan C,
serta traktus spinothalamicus ke arah thalamus yang akan menghasilkan
endorphin, suatu zat yang berfungsi dalam persepsi rasa sakit. Sedangkan sebagian
rangsang lainnya akan diteruskan melalui serabut aferen simpatik menuju ke
motor neuron dan menimbulkan refleks intubasi nyeri yang nantinya semua itu
akan mengurangi rasa sakit.
sumber: Wikipedia.com dan kaahlil.wordpress.com dengan beberapa perubahan
sumber: Wikipedia.com dan kaahlil.wordpress.com dengan beberapa perubahan
Rabu, 05 Januari 2011
PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN DENGAN PROGRAM PAGUYUBAN SWADAYA MASYARAKAT (PSM) DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI EKONOMI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini sebagian besar masyarakat telah disibukkan oleh kepentingan golongan dan pribadinya. Keberpihakan kepada kaum marginal menjadi barang mahal. Masyarakat miskin dan marginal telah dieksploitasi menjadi objek pembangunan. Kekuatan mereka telah dibelenggu oleh program-program pembangunan yang ternyata mematikan inisiatif dan memecahbelah tali persaudaraan. Dengan subsidi yang diberikan telah meluluhlantakan rasa kemanusian bangsa ini. Sebutan bangsa yang ramah tamah sirna akibat subsidi recehan. Data membuktikan bahwa sampai dengan akhir tahun 2005 jumlah angkatan kerja di Indonesia adalah 106,9 juta jiwa. Dari jumlah tersebut maka ada 11.654.293 yang merupakan penganggur terbuka, bila mereka masing-masing mempunyai 3 orang tanggungan maka ada 46.617.172 anggota masyarakat Indonesia yang tidak memiliki prospek ekonomis. Di samping itu masih ada 30 juta yang menjadi penganggur setengah terbuka dan 36 juta merupakan penganggur dengan pendapatan di bawah Rp. 150.000,-- per bulan. Dengan perkataan lain sekitar 50% penduduk Indonesia mengalami kondisi ekonomis yang (sangat) memprihatinkan.
Biarpun demikian kita masih boleh berharap bahwa kondisi yang (sangat) memprihatinkan itu akan dapat ditanggulangi, karena pada dasarnya mereka bukan orang yang malas, pada dasarnya sebagian besar dari mereka mau bekerja keras, hanya masalahnya mereka tidak memiliki ketrampilan yang memadai dan tidak memiliki akses ke sistem ekonomi yang berlaku dewasa ini, dengan demikian mereka tidak bisa keluar dari kesulitan mereka. Di lain pihak arus globalisasi ekonomi, di mana sistem ekonominya yang semata-mata berpihak pada kaum kapitalis dan tidak berpihak pada kaum marjinal, menjadi semakin nyata, dan semakin tidak terbendung. Sehingga arus tersebut bila tidak diwaspadai akan dapat mengikis harapan tersebut di atas. Sebuah gagasan mencoba menyulam dan merenda benang kusut yang telah lama sulit dipecahkan. Upaya untuk menciptakan masyarakat sejahtera tersebut dapat diwujudkan dengan salah satu program yang relevan yaitu dengan pembentukan Paguyuban Swadaya Masyarakat (PSM).
B. Rumusan Masalah
Bertitik tumpu pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan objek permasalahan sebagai berikut:
1. mengapa pemecahan masalah keberdayaan masyarakan diselesaikan dengan program PSM?
2. bagaimana prospek dari pengembangan program Paguyuban Swadaya Masyarakat (PSM)?
3. factor-faktor yang mempengaruhi terlaksananya program Paguyuban Swadaya Masyarakat?
BAB II PEMBAHASAN
A. Pentingnya PSM
Alasan utama mengapa pentingnya program PSM bagi tercapainya masyarakat yang berdaya adalah bahwa arus globalisasi ekonomi tidak mungkin dihadapi secara perorangan, melainkan harus bersama-sama. Kita harus bergandengan tangan dan maju bersama untuk menyatakan eksistensi kita.
PSM (merupakan komunitas basis yang berfokus pada pembangunan ekonomi sosial/yang manusiawi ) adalah suatu organisasi akar rumput yang demokratis dan partisipatif; yang mengadakan pertemuan secara teratur; melakukan kaderisasi secara terus menerus; pemilihan pengurus dilakukan dari dan oleh anggota; melakukan administrasi secara tertib, teratur dan terbuka; dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program secara partisipatif.
Selain daripada itu PSM berorientasi pada pengaturan ekonomi rumah tangga secara dialogis; peningkatan pendapatan keluarga; pemupukan modal bersama dan pengembangan usaha bersama. Untuk itu perlu membangun wawasan yang terbuka terhadap gagasan-gagasan baru dan terhadap bentuk-bentuk kerjasama yang baru. Dalam kaitan ini Gereja dapat menjadi fasilitator yang handal dalam usaha untuk membangun kader-kader, yaitu orang-orang muda yang memiliki idealisme dan bersedia dididik untuk menjadi pendamping bagi paguyuban swadaya masyarakat, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang. Tanpa pemberdayaan dan pendampingan yang sungguh-sungguh oleh mereka yang memiliki kepedulian dan kemauan untuk berbagi, maka mereka yang termarjinalisasi hampir dapat dipastikan tidak akan mungkin bangkit.
B. Pengembangan Program PSM
Langkah-langkah pemberdayaan
Proses penyadaran dan perubahan paradigma baik bagi para mitra PSM (yang tidak lain adalah aparat pemerintah yang terkait baik langsung maupun tidak langsung dan para pendamping di lapangan) maupun para anggota PSM (end users) sendiri.
Proses penyadaran dan perubahan paradigma bagi para mitra PSM terdiri dari pelatihan-pelatihan yang memungkinkan peserta memiliki paradigma yang utuh dan penuh tentang dirinya, kelompoknya dan pelatihan-pelatihan yang memberikan ketrampilan dasar dalam hal manajemen usaha. Adapun pelatihan-pelatihan tersebut saya susun berdasarkan pengalaman kami, sebagai berikut:
a. Bina pribadi unggul:
Pelatihan ini merupakan suatu pelatihan yang bertujuan untuk menyadarkan para peserta bahwa dirinya memiliki kemampuan-kemampuan yang diberikan secara gratis oleh Sang Pencipta, namun sekaligus sebagai manusia yang tidak sempurna kita juga perlu mengenali kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri kita. Dengan perkataan lain pelatihan ini mengajak para peserta untuk menjawab pertanyaan paling mendasar yaitu “siapakah aku ini”. Pelatihan ini diilhami oleh ungkapan yang ditulis pada kuil dewa-dewi di Delphi, Yunani dan di tempat lain yang berbunyi Gnothi se auton yang kurang lebih berarti kenalilah dirimu sendiri. Dengan pelatihan ini diharapkan para peserta termotivasi untuk mengembangkan kemampuannya dan mengurangi kelemahannya, dan dengan demikian dirinya semakin berkembang baik integritasnya, kompetensinya dan komitmennya dalam membantu orang-orang yang selama ini termarjinalisasikan.
b. Bina pribadi utuh:
Pelatihan ini merupakan suatu pelatihan yang bertujuan untuk menyadarkan para peserta bahwa dirinya adalah makhluk sosial. Artinya dalam usaha mengembangkan dirinya manusia tidak bisa tidak harus bersama dengan orang lain, dengan lingkungan hidup yang sehat. Dalam kaitan dengan itu maka perlu suatu penyadaran akan paradigma yang selama ini dipakai dalam hubungan kita dengan orang lain dan lingkungan hidup, dan kemudian berani melakukan koreksi terhadap paradigma yang selama ini kita anut namun sebenarnya salah.
c. Bina kepemimpinan diri:
Setelah kita menyadari siapa diri kita dan juga telah memiliki paradigma yang tepat tentang orang lain dan lingkungan hidup, maka tibalah saatnya kita sampai pada kesadaran bahwa untuk semakin mengembangkan dan menumbuhkan temuan-temuan selama ini maka kita perlu mengembangkan dalam diri kita suatu kepemimpinan diri, di mana kita mampu mengembangkan kebijaksanaan, keberanian untuk mengambil risiko yang telah diperhitungkan secara tepat, mampu mengendalikan diri dari dorongan-dorongan yang tidak sehat dan mampu bertindak secara adil terhadap relasi kita dengan orang lain dan juga lingkungan hidup.
d. Bina kepemimpinan berdasarkan visi:
Bila kita mampu memimpin diri sendiri dengan mengembangkan empat keutamaan di atas maka kita mampu untuk memimpin (pada setiap tingkatan kepemimpinan) orang lain menuju masa depan yang lebih baik. Masa depan yang lebih baik merupakan cita-cita atau impian seorang pemimpin hendaknya dirumuskan secara realistis, menarik dan dapat dipercaya. Maka dengan pelatihan ini para peserta dilatih untuk dapat merumuskan visinya secara tepat, sehingga dapat menarik para pengikutnya.
e. Bina layanan unggul:
Dewasa ini mutu merupakan salah satu unsur yang paling pokok yang dituntut oleh masyarakat pada umumnya. Namun, mutu berwajah ganda, artinya kita bisa berbicara tentang mutu produk atau jasa tetapi kita juga dapat berbicara tentang mutu pelayanan. Berbicara tentang mutu produk atau jasa kita dibantu oleh kecanggihan teknologi yang bisa kita beli, namun berbicara tentang mutu pelayanan maka kita berbicara tentang mutu manusia. berbicara tentang mutu manusia maka kita akan berbicara tentang sistem pengembangan insani secara terpadu, mulai dari perekrutannya sampai saat orang yang bersangkutan tiba pada saat terminalisasi. Atau perkataan lain kita harus berbicara tentang budaya layanan, lewat pelatihan ini kita akan dilatih untuk sampai pada pengertian, penerapan dan pengembangan budaya layanan yang unggul.
Setelah kita melakukan penyadaran dan perubahan paradigma maka kita perlu membekali para mitra PSM dan para end-users dengan beberapa ketrampilan mendasar, seperti:
1. Dasar-dasar manajemen umum bagi usaha kecil:
Melalui pelatihan ini para mitra PSM dan para end-users dilatih untuk memahami karakteristik usaha kecil di mana produknya adalah khusus, unik dan khusus sehingga tidak akan mengalami persaingan dari usaha besar yang biasa menggunakan pendekatan produksi massal, kemudian usaha kecil cakupan daerah pemasarannya tidak terlalu besar sehingga dapat memahami dengan sungguh-sungguh tabiat dan kehendak konsumen, namun biasanya usaha kecil lemah dalam administrasi dan permodalan. Maka para mitra PSM dilatih untuk dapat memiliki ketrampilan sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kekuatan usaha kecil dan sekaligus mampu mengurangi kelemahannya.
2. Dasar-dasar manajemen keuangan:
Salah satu kelemahan dari usaha kecil adalah bidang pengelolaan keuangan, oleh karena itu dengan memperhatikan karakteristik usaha kecil para mitra PSM dilatih untuk mampu mendampingi usaha kecil dalam mengelola keuangannya. Salah satu hal yang paling penting adalah memahami aliran uang dalam usaha kecil dan juga pengendalian biaya dan mampu membedakan macam-macam biaya.
3. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan:
Salah satu tugas seorang pemimpin adalah memecahkan masalah dan kemudian mengambil keputusan. Agar dapat memecahkan masalah dan mengambil keputusan maka seorang pemimpin membutuhkan informasi yang up-to-date, relevan dan akurat dan kemudian dengan kemampuan penalarannya serta pengalamannya pemimpin tersebut dapat mengolah informasi yang diterimanya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dan kemudian mengambil keputusan. Tujuan dari pelatihan ini adalah melatih para peserta untuk dapat mengolah informasi yang dimiliki agar dapat memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara tepat.
4. Manajemen Keuangan Keluarga:
Salah satu kelemahan pengusaha kecil adalah mencampur-adukkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga. Selain daripada itu mereka sering terjebak pada paradigma berhemat dulu baru menabung, padahal seharusnya menabung dulu baru berhemat . Melalui pelatihan ini para pengusaha kecil diharapkan dapat mengubah paradigmanya dan memiliki ketrampilan untuk melakukan pengelolaan yang berdayaguna sehingga dapat memperbaiki ekonomi keluarganya.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan PSM
Keberhasilan PSM berkaitan dengan tiga faktor yang saling terkait satu sama lainnya. Ketiga faktor tersebut adalah:
1. Faktor-faktor internal, seperti faktor kelembagaan kelompok yang menyangkut masalah keanggotaan, kepengurusan, kegiatan kelompok dan mekanisme kerja kelompok.
2. Faktor-faktor eksternal, seperti faktor lingkungan sosial-ekonomi; hubungan dengan aparat pemerintah se tempat; serta faktor dukungan lembaga bisnis setempat.
3. Faktor-faktor yang berkaitan dengan lembaga-lembaga pendamping, seperti integritas, kompetensi, komitmen dan subsidiaritas dalam usaha mendampingi dan memfasilitasi PSM yang berusaha untuk meningkatkan kemampuannya untuk semakin berhasil (di sinilah peran Gereja (cq kaum muda dan mereka yang masih merasa muda menjadi sangat konkret).
BAB III Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
1. PSM berorientasi pada pengaturan ekonomi rumah tangga secara dialogis; peningkatan pendapatan keluarga; pemupukan modal bersama dan pengembangan usaha bersama.
2. Keberhasilan PSM berkaitan dengan tiga faktor yang saling terkait satu sama lainnya yaitu Faktor-faktor internal, seperti faktor kelembagaan kelompok yang menyangkut masalah keanggotaan, kepengurusan, kegiatan kelompok dan mekanisme kerja kelompok, Faktor-faktor eksternal, seperti faktor lingkungan sosial-ekonomi; hubungan dengan aparat pemerintah se tempat; serta faktor dukungan lembaga bisnis setempat dan faktor-faktor yang berkaitan dengan lembaga-lembaga pendamping, seperti integritas, kompetensi, komitmen dan subsidiaritas dalam usaha mendampingi dan memfasilitasi PSM yang berusaha untuk meningkatkan kemampuannya untuk semakin berhasil
3. langkah-langkah pemberdayaan masyarakat diawali dengan tahap penyadaran terhadap masyarakat kemudian dilanjutkan dengan membekali para mitra PSM dan para end-users dengan beberapa ketrampilan mendasar
Saran
1. dengan keadaan globalisasi yang semakin menuntut kesiapan masyarakat untuk menghadapinya diperlukan peran aktif dari pemerintah dalam mensosialisasikan sekaligus merangsang kegiatan pemberdayaan yang berasal dari, oleh dan untuk rakyat.
2.Agar pelaksanaa PSM betul –betul dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar tujuan yang diharapkan dari program ini yaitu masyarakat yang sejahtera tercapai.
Daftar Pustaka
Soetomo.2000. Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
.Pemberdayaan Keluarga Miskin Dalam Konteks Globalisasi Ekonomi oleh Stanislaus Nugroho
Langganan:
Postingan (Atom)
